Rabu, 21 Agustus 2019
Kejaksaan Republik Indonesia

BERITA

Workshop Anti Korupsi di Kejati Riau

Kepala Kejaksaan Tinggi Riau Setia Untung Arimuladi, S.H. M.Hum. Selasa (28-10-2014) membuka secara resmi workshop bertemakan “Peran Keluarga Dalam Mencegah Tindak Pidana Korupsi”. Workshop yang dikhususkan untuk anggota Ikatan Adhyaksa Dharmakarini se-Kejati Riau tersebut, dimulai dari jam 09.00 pagi hingga jam 13.30 WIB.

Workshop yang dikemas dalam bentuk talk show tersebut dipandu oleh presenter TVRI perwakilan Riau Debi Ramona menghadirkan narasumber Dr. Achmad Hidir, M.Si yang merupakan ketua progam magister sosiologi FISIP Universitas Riau menyampaikan materi tentang pentingnya peran keluarga dalam pemberantasan korupsi ditinjau dari aspek sosiologi dan pisikologi dan narasumber yang ke dua adalah Kepala Kejaksaan Tinggi Riau Setia Untung Arimuladi, S.H. M.Hum. Kajati Riau menyampaikan materi tentang pentingnya peran keluarga dalam pencegahan korupsi dari aspek hukum. Dimana terjadi dialog interaktif antara narasumber dan audiens.

Kajati Riau dalam sambutannya mengatakan keluarga merupakan salah satu bentuk lembaga pendidikan, yang disebut pendidikan informal. dengan kata lain keluarga merupakan sekolah pertama semenjak seseorang dilahirkan, dan sangat berperan dalam pembentukan akhlak.

Orang yang paling ber­tanggung jawab dalam keluar­ga tentu kedua orang tua; ayah dan ibu. dalam konteks pen­didikan antikorupsi ini, orang tua memiliki tanggung jawab penting dalam mendidik anak-anak dan keluarganya agar terhindar dari korupsi. dalam hal ini, ada beberapa hal yang patut dilakukan.

Menyadari bahwa hasil korupsi akan meracuni rohaniah anak dan keluarga. dalam mindset orang tua mesti terbentuk bahwa korupsi adalah pekerjaan haram. Jika korupsi yang dilakukan itu me­ng­hasilkan uang dan di­gunakan untuk memberi makan anak dan istri, sesungguhnya ia telah membentuk keluarga yang bermental buruk, rohaniahnya rusak, sulit menerima ke­benaran dan cenderung merasa senang dan nyaman melakukan hal-hal yang diharamkan. te­gasnya mereka jauh dari hidayah Allah SWT.

Jangan mengukur segala sesuatu dengan materi. orang tua mesti mengajarkan kepada anaknya bahwa yang materi bukanlah tujuan (goal), tetapi sebagai sarana untuk mencapai tujuan. namun, ter­kadang orang tua tidak sadar bahwa apa yang ia lakukan telah mengajarkan kepada anaknya bahwa materi meru­pa­kan tujuan dan indikator utama dalam mencapai kesuk­sesan. misalnya, mem­berikan reward atau peng­hargaan kepada anak hanya dengan materi semata. jika anak meraih prestasi, maka orang tuanya memberi imbalan berupa uang. jika anak mau disuruh, juga diberi imbalan uang dan seterusnya. akibatnya, psikologis anak akan terbentuk dengan “segala sesuatu diukur dengan uang”.

Boleh saja reward yang diberikan berupa materi. namun mesti seimbang de­ngan mengoptimalkan spiritualitasnya. imbalan tidak hanya berupa uang, tetapi bisa berupa pujian, ucapan yang menyenangkan, atau dengan cara berbagi dengan sesama; anak yatim, fakir miskin dan sebagainya.

Begitu pula dengan mem­berikan arti tentang sukses, janganlah diukur dengan materi semata. ketika mem­bimbing anak untuk bercita-cita, jangan hanya karena besarnya jumlah uang yang dihasilkan dari apa yang dicita-citakan. tetapi cita-cita tersebut dipilih karena diang­gap profesi itu banyak mem­beri manfaat bagi orang lain, berperan eksis di tengah masyarakat, hidup bernilai dan diridhai allah swt.

Memberikan kete­ladan kepada keluarga. orang tua mesti menjadi teladan bagi anak-anaknya untuk tegas mengatakan tidak pada korup­si. orang tua senantiasa mem­berikan pemahaman kepada anaknya bahwa hidup yang bernilai bukanlah kemewahan, tetapi keteguhan hati dalam menjalankan nilai-nilai ke­benaran.

Selain itu, korupsi tidak saja dipahami dari segi materi seperti mengambil uang yang bukan haknya. tetapi korupsi juga dapat terjadi pada waktu, atau korupsi waktu. hidup disiplin, menghargai waktu dan mengisinya dengan kegiatan positif merupakan hal penting yang mesti diajarkan oleh orang tua kepada anak-anak­nya dengan penerapan, bukan teori semata.

Mengakhiri sambutannya, Kajati Riau menyebutkan Kejaksaan RI juga telah melakukan pencanangan zona integritas bebas korupsi pada tanggal 25 november 2013 dimana sebagai bagian dari kesungguhan institusi Kejaksaan dalam mengukuhkan diri sebagai lembaga yang mempunyai komitmen untuk mencegah terjadinya KKN disertai upaya untuk mewujudkan wilayah bebas korupsi serta reformasi birokrasi yang akuntabel di seluruh unit kerja kejaksaan dimanapun berada.

Doktrin Tri Krama Adhyaksa Satya, Adhi dan Wicaksana, sebagaimana diatur dalam Kepja Nomor: kep-030/JA/3/1988. Satya: berarti kesetiaan yang bersumber pada rasa jujur baik terhadap tuhan yang maha esa, terhadap diri sendiri dan keluarga maupun terhadap sesama manusia; Adhi: berarti kesempurnaan dalam bertugas dan berunsur utama pemilikan rasa tanggung jawab – bertanggung jawab terhadap tuhan yang maha esa, keluarga dan terhadap sesama manusia; dan Wicaksana: berarti bijaksana dalam tutur kata dan tingkah laku khususnya dalam pengetrapan kekuasaan dan kewenangannya. makna dari doktrin Tri Krama Adyaksa tersebut adalah sangat dalam, apabila diterapkan pada keluarga besar Adhyaksa, Insya Allah tidak ada lagi perilaku koruptif aparatur kejaksaan.

Mari kita renungkan secara mendalam dan sungguh-sungguh pendidikan anti korupsi bagi keluarga besar Kejaksaan Tinggi Riau, sehingga tercipta suatu keluarga besar Adhyaksa yang anti korupsi, zero toleran bagi perilaku koruptif. kita menyadari tidak semudah membalikkan telapak tangan untuk mewujudkan hal tersebut. bagi yang berkomitmen kuat dan sudah melakukan tinggal mempertahankan dan berlaku istiqomah, bagi yang belum, tidak ada kata terlambat untuk memulai. marilah kita mulai, mulai dari sekarang, mulai dari diri sendiri , keluarga dan lingkungan kita ditengah-tengah masyarakat.

Ketika tim website kejaksaan Tinggi Riau mewawancarai Kajati Riau menanyakan apa pentingnnya workshop bertemakan “Peran Keluarga Dalam Mencegah Tindak Pidana Korupsi” Kajati Riau menjawab bahwa Kejaksaan merupakan institusi penegak hukum yang salah satu kewenangannya adalah penindakan terhadap Tindak Pidana pelaku korupsi bahwa pemberantasan korupsi tidak hanya dilakukan secara represif tetapi juga secara prefentif, pemberantasan korupsi juga harus dilakukan dari diri sendiri, keluarga dan lingkungan, sehingga jika hal tersebut berhasil dilakukan maka insyaallah penyakit korupsi di nusantara akan musnah dengan sendirinya, selain itu bertepatam dengan momentum peringatan hari sumpah pemuda ke 86 menjadi tonggak yang tak terpisahkan dengan kepeloporan dan kepedulian agar keluarga terhindar dari perilaku korup.


kembali

Kontak

PUSAT PENERANGAN HUKUM

KEJAKSAAN AGUNG R.I

Jl. Sultan Hasanuddin No.1 Kebayoran Baru
Jakarta Selatan - Indonesia

Telpon  : +62 21 722 1269

E-mail  : humas.puspenkum@kejaksaan.go.id