Senin, 19 November 2018

04-07-2018
WNI Nurkoyah Bebas Dari Hukuman Mati Di Arab Saudi

Nurkoyah bt Marsan alias Nuriyah Marisan Darisan, seorang Ekspatriat Indonesia asal Karawang yang telah bebas dari hukuman mati di Arab Saudi akhirnya dipulangkan ke Indonesia pada Selasa malam, 6 Juli 2018.

Nurkoyah diancam hukuman mati di wilayah propinsi timur Kerajaan Arab Saudi, atas tuduhan dengan segaja dan berencana membunuh anak majikan berusia 3 bulan dengan mencampurkan obat tertentu dan racun tikus ke dalam botol susu anak majikan tersebut.

Setelah menjalani proses hukum yang panjang dan melelahkan sejak ditangkap pada 09/05/2010 akhirnya pada tanggal 31/05/2018 diperoleh kepastian bahwa kasus hukum WNI Nurkoyah tersebut dinyatakan selesai.

Kabar gembira bebasnya WNI Nurkoyah dipastikan setelah KBRI pada 02/06/2018 menerima salinan putusan dari Pengacara Mishal Al Syareef yang berkantor di Kota Dammam dan selanjutnya berkoordinasi dengan pihak penjara di Dammam guna melengkapi persyaratan dokumen keimigrasian.

Nurkoyah sebelumnya dituntut dengan hukuman mati (had ghilah) oleh jaksa penuntut umum (dalam perkara hak umum). Sementara dalam perkara Hak Khusus, Khalid Al Busyail (ayah kandung korban) menuntut hukuman mati (qisash).

Pengadilan pada 26/10/2016 menolak tuntutan hukuman mati (had ghilah) karena Nurkoyah mencabut pengakuannya saat proses penyidikan dan memutuskan hukuman ta’zir (6 tahun penjara dan 500 kali cambuk).

Sedangkan dalam perkara Hak Khusus, pada 25/01/2017 Pengadilan kembali menolak tuntutan hukuman mati (qishash) dengan menggunakan pembuktian sumpah (yamin) karena terdakwa Nurqoyah mengingkari tuduhan dan Penuntut Hak Khusus tidak mampu menghadirkan bukti lain yang menguatkan tuduhan tersebut.

Penuntut Hak Khusus kembali mengajukan tuntutan diyat terhadap Nurqoyah atas dugaan telah melakukan kelalaian sehingga anak kandung majikannya meninggal dunia.

Pengadilan pada tanggal 03/04/2018 kembali menolak tuntutan hak khusus (diyat) tersebut atas dasar nebis in idem. Sampai dengan tenggat waktu 30 hari untuk mengajukan i’tiradh (keberatan) terlampaui, Penuntut Hak Khusus tidak mengajukan keberatannya sehingga pengadilan menetapkan bahwa putusan tersebut telah berkekuatan hukum tetap.

Sejak kasus ini bergulir, KBRI melalui Atase Hukumnya terus memantau perkembangannya dari waktu ke waktu dan melakukan kunjungan rutin ke penjara.

Selain itu, KBRI proaktif mendampingi Nurkoyah dalam setiap persidangan yang dalam hal KBRI juga menunjuk Kantor Pengacara Mishal Al-Sharif untuk bertindak sebagai kuasa hukumnya.

Pada tanggal 04/06/ 2018, KBRI Riyadh telah menyampaikan kelengkapan dokumen kekonsuleran sebagai kelengkapan persyaratan dalam rangka penerbitan exit permit pemulangan Nurkoyah ke Indonesia. (nd)


Kontak

PUSAT PENERANGAN HUKUM

KEJAKSAAN AGUNG R.I

Jl. Sultan Hasanuddin No.1 Kebayoran Baru
Jakarta Selatan - Indonesia

Telpon  : +62 21 722 1269

E-mail  : humas.puspenkum@kejaksaan.go.id